Buku Waktu


Aku tau bab awal, tapi aku tak tahu kapan bab terakhir. Yang kutahu aku harus terus membuka satu per satu.Pada suatu halaman, aku beri pembatas buku berupa pita berwarna merah. Aku terhenti. Aku berhenti. Di situ.

Enggan membaca lagi. Kutinggalkan di rak buku. Setiap kutengok, yang aku lihat jelas hanya seutas pita merah itu.

Terantuk di satu masa, ingin kusobek halaman berpembatas merah itu. Kuremas-remas dan kucabik, lalu kubuang saja di sampah. Karena di halaman itu, kata kata yang tertulis terlalu tajam seperti belati. Ceritanya menyakitiku. Huruf-hurufnya menerjang akal sehatku. Setiap paragrafnya melumpuhkanku.

Aku terduduk di lembah bisu. Tak ada yang kubaca lagi.

Kemudian angin sepi menyepoi jilbabku. Keheningan merambati kulitku. Aku bergidik. Kusentuh lagi buku waktu itu.

Kupegang pita pembatas berwarna merah di sela halaman yang kubenci. Warna yang cantik. Tapi bukankah itu, yang menjerujiku. Pita itu selalu menjadi pengingat akan alur yang tak kuingin kubaca, tapi bukankah buku ini belum selesai?

Kutarik dan kuenyahkan pita itu, dengan segenap tenaga kubalik lagi halaman baru. Berhenti terlalu lama membuatku lupa aksara. Kini aku kembali belajar membaca..

2 responses

  1. Ayoo…move on dear.
    Hindari kriminalitas pada buku, membiarkannya tidak selesai dibaca.
    Sebenci apapun kita pada satu halaman, kalo mau terus hidup ya harus ditmatin tuh buku waktuya..😀
    Cemungudh qaqa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s