Every Child is SPESIAL


                Umm, mungkin saya salah satu orang yang termasuk bingung dengan pandangan kebanyakan orang tentang pendidikan. Sejujurnya, saya bingung dengan sistem pendidikan itu sendiri. Saya tidak ingin menyalahkan sistem atau siapapun disini.

Saya bingung, kenapa sistem pendidikan membuat masyarakat mengukur kesuksesan pendidikan itu sendiri dengan strata akademik? Mengapa perusahaan-perusahaan besar hanya sangat percaya pada lulusan dengan indeks prestasi yang sempurna? Kenapa anak yang sudah bisa membaca saat berumur di bawah 5 tahun, menghapal perkalian hingga menghapal nama-nama negara di dunia dianggap akan sukses dengan gemilang sementara anak seumuran yang masih suka memainkan ingus, main tanah, menyoret dinding, mengotori seluruh rumah, memainkan saklar lampu ataupun berbicara sendiri di depan kipas yang sedang berputar agar bisa mendengar suaranya sendiri bergema jarang sekali diberi apresiasi.(“_ _)/| Kenapa anak yang biasanya rangking satu, yang biasanya mendapat nilai 10 dalam matematika, menggambar pemandangan lengkap disebut cerdas dan berbakat, lalu anak yang menggambar sesuatu yang susah didefinisikan dalam bahasa manusia dianggap bermasalah? Mengapa orang tua dengan anak-anak yang tidak bisa rangking di kelas selalu berkecil hati dan merasa menjadi orangtua paling malang sedunia? Dan terutama, mengapa kini pendidikan menjadi begitu sempit? Mengapa pendidikan hanya terdefinisi dalam dimensi sekolah formal?

Ada kejadian dilematis ketika malam itu saya sedang mengajar di  kejawan gebang, lalu datang seorang ibu-ibu dengan wajah seolah-olah besok hari kiamat dan meminta anaknya yang berumur sekitar 4-5 tahun untuk diajari membaca-menulis-menghitung? Ibu yang mencemaskan masa depan anaknya itu juga menambahkan bahwa anaknya harus lulus tes baca-tulis-hitung agar bisa masuk SD. *cetarrr.. Bagaimana saya tidak ingin sekali menggaruk-garuk aspal coba? Lah, kemampuan dasar (baca-tulis-hitung) justru harusnya diajarkan di Sekolah Dasar. Argh.(“_ _)/|

Lalu, saya jadi teringat dengan salah satu film india, “Taare Zameen Par’s”, film yang sangat bagus untuk membantu kita memahami dunia pendidikan anak.  Inti dari pesan film ini tak jauh berbeda dengan film “3 Idiots”, yaitu bahwa pola pengajaran dalam dunia pendidikan tak serta merta harus diukur dengan nilai saja, bahwa kecerdasan setiap anak bersifat majemuk. Diceritakan disini, Ishaan adalah korban sistem pendidikan yang menunggalkan makna kecerdasan. Ishaan, karena dyslexia, memang kesulitan dalam membaca dan menulis, hingga Ishaan butuh proses belajar yang berbeda dari teman-temannya. Ishaan memang butuh waktu lebih lama dari teman-temannya untuk menulis dan membaca. Tapi lihatlah kemampuan melukis Ishaan, Tidakkah dia brilian??? Orang tua Ishaan, mungkin seperti kebanyakan orangtua di sekeliling kita, tidak paham keadaan Ishaan, mereka justru marah saat Ishaan bukannya belajar membaca tapi malah menggambar-gambar tidak jelas.

Anak lain juga punya dimensi kecerdasan yang berbeda. Ishaan, dan setiap anak di dunia terlahir spesial. Terkutuklah sistem pendidikan jika justru karenanya anak-anak kehilangan diri mereka sendiri. Anak-anak, terlahir dengan potensinya masing-masing. Mereka hadir ke dunia membawa warna mereka sendiri. Tak ada seorang pun yang berhak menuding mereka bodoh hanya karena tak mampu belajar secepat teman-temannya. Mereka tumbuh dengan cara mereka sendiri, dengan kecepatan mereka sendiri. Mereka punya momentum sendiri-sendiri dan terlalu berharga untuk disamaratakan oleh sistem. Kita tak berhak mengikis jiwa murni mereka. Mereka spesial, dan biarkan mereka tumbuh dengan spesial.

Well, mungkin saya norak atau kampungan menonton film Bollywood, tapi menurut saya, film ini patut ditonton oleh semua orang yang mencintai anak-anak dan peduli pada pendidikan. Karena seringkali orang tua tidak menyadari apa yang menjadi kebutuhan dan ketakutan anak.

Setelah saya menonton film ini, saya makin yakin, every child is special with their own way, bahkan anak-anak dengan development disabilities yang mereka punya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s